Anjungan Air Minum Wakaf di Kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh Jadi Simbol Sejarah Panjang Aceh-Turki

Penulis: Fajar  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 20:42:31 WIB
Anjungan air minum wakaf bergaya arsitektur Ottoman resmi beroperasi di Kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

BANDA ACEH — Anjungan air minum wakaf Sayyid Osman Hulusi Efendi Hazretleri di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh resmi beroperasi. Bangunan berarsitektur Ottoman ini berada di kawasan Darussalam, Banda Aceh, dan dibangun oleh Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi bersama Somuncu Baba Education, Culture and Social Aid Organization, dengan dukungan Yayasan Tarara Global Humanity.

Proyek Perdana Skala Internasional di Luar Turki

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahman, mengatakan fasilitas ini merupakan proyek pertama berskala internasional yang dibangun di luar Turki. "Bangunan berarsitektur Ottoman ini bukan sekadar infrastruktur penyedia air minum gratis, melainkan simbol persaudaraan dan kerja sama kemanusiaan antara dua bangsa yang telah terhubung sejak berabad-abad lalu," katanya di sela peresmian, Selasa.

Air minum yang disediakan diolah menggunakan teknologi reverse osmosis (RO), sehingga aman langsung dikonsumsi. Kampus juga menyiapkan sistem penampungan berkapasitas 10 meter kubik yang terhubung dengan jaringan PDAM untuk menjaga pasokan air.

Air Bersih sebagai Sedekah Berkelanjutan

Anggota Dewan Pengawas Yayasan Es-Seyyid Osman Hulusi Efendi, Ali Gençal, menyebut pembangunan anjungan ini merupakan tradisi pelayanan sosial warisan Sayyid Osman Hulusi Efendi. Menurutnya, penyediaan akses air bersih memiliki makna penting dalam ajaran Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sedekah terbaik adalah memberi minum kepada sesama.

"Proyek ini tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh civitas akademika dan masyarakat," ujar Mujiburrahman.

Arsitektur Ottoman dengan Prasasti Empat Bahasa

Bangunan anjungan mengadopsi air mancur klasik Ottoman dengan delapan keran. Sistem pemurnian airnya berkapasitas 3.000 liter, dan di lokasi terpampang prasasti dalam empat bahasa: Indonesia, Turki, Inggris, dan Arab.

Ali Gençal menambahkan, proyek ini menjadi wujud persaudaraan yang terus terjalin antara Indonesia dan Turki, khususnya dengan masyarakat Aceh yang memiliki ikatan sejarah panjang dengan negeri tersebut.

Kerja Sama Bisa Meluas ke Pendidikan dan Penelitian

Mujiburrahman berharap kerja sama ini dapat diperluas ke bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan pengabdian masyarakat di masa mendatang. Dengan hadirnya fasilitas ini, civitas akademika UIN Ar-Raniry dan masyarakat sekitar kini bisa menikmati air minum gratis yang terjamin kualitasnya.

Reporter: Fajar
Sumber: antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top