USK dan PKKHY Libatkan 1.300 Siswa SMP di Aceh Tamiang untuk Riset Pemulihan Kesehatan Mental Anak Pascabencana

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:18:01 WIB
Ratusan siswa SMP di Aceh Tamiang mengikuti riset pemulihan kesehatan mental anak pascabencana yang digagas Universitas Syiah Kuala dan PKKHY.

BANDA ACEH — Riset bertajuk SAMUDRA (Support for Adaptive Mental Health using Disaster Recovery Approach) ini merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman antara USK dan PKKHY. Pendanaannya berasal dari hibah skema Penelitian Kerjasama Perguruan Tinggi (PKPT) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Ketua Tim Peneliti Dr. Sumarti Endah, PMM menyebut jumlah responden yang besar diharapkan mampu memotret secara komprehensif kondisi psikologis anak sekaligus faktor-faktor yang memengaruhinya pascabencana.

“Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam penguatan layanan kesehatan mental anak pascabencana, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan program promotif dan preventif yang berkelanjutan,” ucapnya.

Mengapa Pemulihan Tidak Cukup Lewat Layanan Klinis?

Dekan Fakultas Keperawatan USK, Prof. Dr. Teuku Tahlil, S.Kp., M.S yang juga anggota tim riset menegaskan bahwa pemulihan trauma anak tidak bisa berjalan sendiri melalui pendekatan medis. Menurutnya, keluarga, sekolah, dan komunitas adalah sistem pendukung utama yang harus dilibatkan sejak awal.

“Melalui penelitian ini, kami ingin membangun model intervensi yang tidak hanya ilmiah dan terukur, tetapi juga mudah diterapkan oleh masyarakat, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Aceh sebagai Laboratorium Ketahanan Psikososial Nasional

Prof. Tahlil menambahkan, pengalaman panjang Aceh menghadapi berbagai bencana menjadikan provinsi ini lokasi yang tepat untuk menguji model pemulihan berbasis komunitas. Ia berharap hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi akademik, melainkan menjadi panduan operasional di daerah rawan bencana lain di Indonesia.

“Karena itu, kami berharap hasil riset ini tidak berhenti sebagai publikasi akademik semata, tetapi menjadi panduan nyata dalam penanganan kesehatan mental anak pascabencana di Aceh dan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia,” katanya.

Metode Campuran untuk Hasil yang Lebih Akurat

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan data kuantitatif dari ribuan responden dengan pendalaman kualitatif. Cara ini dipilih agar model intervensi yang dihasilkan benar-benar selaras dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat Aceh, bukan sekadar menyalin paket program dari daerah lain.

Anak-anak disebut sebagai kelompok paling rentan mengalami dampak psikologis jangka panjang setelah bencana. Karena itu, pendekatan pemulihan harus hadir sedekat mungkin dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Riset ini menjadi salah satu upaya konkret perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat melalui pendekatan ilmiah berbasis bukti (evidence-based). Hasil akhirnya nanti diharapkan bisa diadopsi pemerintah daerah dan pusat dalam memperkuat layanan kesehatan mental anak di daerah rawan bencana.

Reporter: Sutomo
Sumber: usk.ac.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top