BANDA ACEH — Prestasi ini menjadi pengakuan atas upaya pengelola perpustakaan gampong dalam menghidupkan budaya baca di tengah masyarakat. Juara 1 pada ajang yang sama diraih perpustakaan dari Kabupaten Aceh Tengah, sementara posisi ketiga ditempati Kota Subulussalam.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh A. Murtala, didampingi Plt Kepala DPKA Aceh Zulkifli dan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal. Kehadiran orang nomor satu di jajaran Pemko Banda Aceh itu menegaskan dukungan pemerintah kota terhadap pengembangan literasi berbasis komunitas.
Raihan Perpustakaan Baitul Hikmah dinilai membuktikan bahwa pengembangan perpustakaan di tingkat gampong bisa menjadi penggerak literasi yang efektif. Keberadaannya tak sekadar tempat meminjam buku, tetapi juga ruang belajar dan berkegiatan bagi warga, terutama generasi muda.
Plt Kepala DPKA Aceh Zulkifli menyebut festival ini dirancang untuk memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan sumber informasi masyarakat. "Kegiatan ini bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat, mendorong tumbuhnya budaya literasi di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan komunitas," ujarnya.
Festival Literasi Aceh 2026 berlangsung selama tiga hari, 18–20 Agustus, di Gedung Perpustakaan Aceh. Rangkaian acara yang dihadirkan cukup beragam, mulai dari pameran literasi, stan UMKM, hingga pertunjukan seni.
Panitia juga menyiapkan agenda yang menyasar berbagai kalangan usia. Ada talkshow, sesi mendongeng, storytelling, penampilan marching band, hingga pertunjukan musik. Aksi donor darah turut memeriahkan festival sebagai bentuk kepedulian sosial para pegiat literasi.
Selain lomba perpustakaan desa, panitia juga mengumumkan pemenang lomba video literasi. Penghargaan khusus diberikan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pengawas arsip eksternal terbaik, sebagai pengakuan atas tata kelola kearsipan yang baik di lingkungan pemerintahan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan akses masyarakat terhadap kegiatan edukatif dan kreatif semakin luas. Festival ini menjadi ajang apresiasi sekaligus ruang bertukar ide bagi para pegiat literasi di seluruh Aceh.