Celios: Independensi Bank Indonesia Jadi Pengawal Terakhir Stabilitas Ekonomi di Tengah Tekanan Fiskal

Penulis: Fajar  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:04:01 WIB
Ekonom Celios Nailul Huda menyampaikan pandangannya mengenai independensi Bank Indonesia dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis.

ACEH — Jakarta — Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menegaskan bahwa kebebasan Bank Indonesia (BI) dari intervensi pemerintah merupakan prasyarat mutlak untuk menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar. Menurutnya, ketika pengelolaan fiskal negara tidak sehat, otoritas moneter harus menjadi benteng terakhir yang tidak boleh terusik oleh kepentingan jangka pendek.

"Ketika fiskal kita ini buruk pengelolaannya … seharusnya ada pengawal terakhir yang itu dipegang oleh otoritas moneter yang tidak boleh diintervensi siapapun dan apapun," kata Nailul dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis.

Belajar dari Krisis: Mengapa Bank Sentral Harus Bebas dari Tekanan Pemerintah

Nailul memaparkan, penguatan independensi bank sentral merupakan salah satu pelajaran penting dari berbagai krisis ekonomi global sejak periode pasca-Perang Dunia. Pada masa itu, banyak bank sentral berada di bawah bayang-bayang pemerintah karena dibutuhkan untuk membiayai pembangunan dan pemulihan ekonomi.

Namun, gelombang inflasi tinggi yang terjadi kemudian memaksa perubahan paradigma. Negara-negara di dunia mulai menyadari bahwa bank sentral yang tunduk pada kebutuhan fiskal pemerintah hanya akan memicu ketidakstabilan harga dan nilai tukar dalam jangka panjang.

Indonesia sendiri mengalami perubahan fundamental setelah krisis ekonomi 1997-1998. Penguatan independensi BI kemudian dituangkan secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang diperbarui pada 2004.

Risiko Intervensi: Ancaman Arus Modal Keluar dan Pelemahan Rupiah

Urgensi independensi ini semakin terasa di tengah derasnya arus modal global yang bergerak cepat. Nailul menjelaskan, ketika modal asing mudah masuk dan keluar, kredibilitas bank sentral menjadi modal utama untuk menjaga stabilitas moneter.

Ia mengingatkan bahaya jika kebijakan moneter terlalu dipaksa mendukung kebutuhan fiskal pemerintah. Kondisi tersebut akan memicu kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas kebijakan, yang pada akhirnya justru mendorong arus modal keluar (capital outflow).

Tekanan fiskal yang tidak dikelola dengan baik juga berpotensi menggerus kepercayaan terhadap rupiah. Ketika kepercayaan itu menurun, masyarakat dan investor akan mengalihkan asetnya ke valuta asing, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar.

Harapan untuk Pemimpin BI ke Depan

Nailul berharap pemimpin Bank Indonesia ke depan mampu menjaga independensi lembaganya dari tekanan pemerintah maupun kepentingan kebijakan jangka pendek. Sikap tegas ini dinilai krusial untuk memastikan stabilitas perekonomian nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. (ANTARA/Shofi Ayudiana/Editor: Ahmad Wijaya)

Reporter: Fajar
Sumber: antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top