ACEH — Bloomberg melaporkan bahwa langkah dramatis ini diambil setelah tim keamanan siber T-Mobile menghabiskan waktu berbulan-bulan mencari jejak peretas di dalam sistem mereka tanpa hasil. Titik terang muncul ketika aktivitas mencurigakan terdeteksi pada salah satu sistem internal, yang sumbernya berasal dari router milik perusahaan telekomunikasi lain yang tidak disebutkan namanya.
Jeff Simon, kepala keamanan siber T-Mobile, menuturkan bahwa setelah identifikasi berhasil dilakukan, ia bersama tiga rekannya langsung menuju pusat data di dekat kantor pusat perusahaan di Bellevue, Washington. Di lokasi tersebut, mereka menemukan sistem yang telah dibobol dan memutus kabel yang menghubungkan perangkat itu ke jaringan eksternal menggunakan gunting.
Tindakan fisik ini dinilai perlu untuk menghentikan akses peretas secara instan, mengingat Salt Typhoon dikenal memiliki kemampuan canggih dalam menghindari deteksi dan mempertahankan akses jarak jauh ke infrastruktur korban.
Kelompok Salt Typhoon yang didukung pemerintah China telah mengkompromikan ratusan perusahaan telepon, raksasa internet, dan penyedia pusat data dalam kampanye spionase terkoordinasi. Target utama mereka adalah mencuri catatan telepon dan informasi sensitif mengenai pejabat tinggi pemerintah AS, termasuk calon presiden saat itu.
Perusahaan lain yang turut menjadi korban dalam gelombang serangan ini mencakup AT&T, Verizon, jaringan telepon satelit Viasat, serta raksasa infrastruktur jaringan Charter dan Windstream. Berbeda dengan para pesaingnya, T-Mobile berhasil lolos dari pelanggaran skala besar berkat deteksi dini dan respons cepat tersebut.
Serangan yang dilakukan Salt Typhoon memanfaatkan celah pada sistem jaringan yang saling terhubung antar operator telekomunikasi. Dari laporan yang beredar, kelompok ini menggunakan teknik canggih untuk menyamar sebagai lalu lintas data normal, sehingga sulit terdeteksi oleh sistem pemantauan konvensional.
Hingga berita ini diturunkan, T-Mobile belum memberikan komentar resmi saat dihubungi TechCrunch. Namun, insiden ini menjadi pengingat bahwa ancaman siber yang didukung negara kini tidak hanya menyasar sektor finansial, tetapi juga infrastruktur kritis telekomunikasi yang menjadi tulang punggung komunikasi digital global.
Kejadian ini menyoroti kerentanan operator telekomunikasi terhadap serangan rantai pasok dan pentingnya langkah respons insiden yang cepat. Bagi pelaku bisnis digital Indonesia, insiden ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya berinvestasi dalam deteksi ancaman yang proaktif, bukan hanya pemulihan pasca-serangan.
Strategi "memutus kabel" yang dilakukan T-Mobile menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, tindakan fisik masih menjadi solusi paling efektif untuk menghentikan akses peretas yang sudah mengakar di dalam sistem. Pendekatan ini kontras dengan metode digital yang berisiko memicu perang siber berkepanjangan.