ACEH — Daftar harga yang beredar per 21 Agustus 2026 menunjukkan Samsung Indonesia belum melakukan penyesuaian harga besar-besaran. Artinya, calon pembeli punya ruang napas untuk membandingkan spesifikasi sebelum memutuskan. Yang menarik, persaingan internal Samsung kini makin ketat—selisih harga antara Galaxy S26 Plus dan Galaxy Z Flip8 hanya Rp 500 ribu di varian dasar, sebuah situasi yang jarang terjadi di generasi sebelumnya.
Galaxy S26 Ultra memulai harga di Rp 24.499.000 untuk varian 12/256 GB. Varian tertinggi 16 GB/1 TB menyentuh Rp 31.999.000. Kenaikan harga ini menempatkannya di zona kompetisi langsung dengan iPhone Pro Max dan flagship Android China kelas atas.
Jika budget mepet, Galaxy S25 Ultra generasi sebelumnya masih dijual dengan selisih Rp 1,5 juta lebih murah untuk varian 256 GB. Namun, perlu dicatat, harga S25 Ultra di angka Rp 22.999.000 itu sudah termasuk penyimpanan 256 GB—bukan 12/256 GB seperti S26 Ultra. Pertanyaannya, apakah kenaikan Rp 1,5 juta itu sepadan dengan peningkatan chipset dan kamera? Untuk pengguna yang butuh zoom telefoto terbaik di kelasnya, jawabannya cenderung iya. Untuk yang hanya butuh flagship buat media sosial, S25 FE di Rp 12.499.000 adalah pilihan yang jauh lebih rasional.
Galaxy Z Fold8 dibanderol mulai Rp 28.499.000 untuk 12/256 GB. Menariknya, harga ini identik dengan harga peluncuran Z Fold7 di periode sebelumnya—artinya tidak ada kenaikan untuk generasi terbaru. Varian 16 GB/1 TB menembus Rp 40.499.000, sementara versi Ultra-nya memulai dari Rp 32.499.000.
Di sisi lain, Z Flip8 yang lebih kompak dijual mulai Rp 19.999.000. Selisih Rp 8,5 juta antara Flip8 dan Fold8 adalah jurang yang dalam. Ini bukan sekadar beda ukuran layar, tapi beda segmen pengguna: Flip8 untuk mereka yang ingin gaya lipat compact dengan harga mendekati flagship biasa, sedangkan Fold8 untuk produktivitas layar besar. Jika Anda tidak benar-benar butuh layar internal selebar tablet, sulit merekomendasikan Fold8 dibandingkan S26 Ultra yang lebih murah Rp 4 juta dengan kamera lebih baik.
Di kelas menengah, Galaxy A57 5G jadi opsi paling menarik. Varian 8/128 GB di Rp 7.599.000 menawarkan keseimbangan performa dan harga yang jarang dimiliki seri A sebelumnya. Varian 12/256 GB naik ke Rp 8.999.000—masih di bawah angka psikologis Rp 9 juta.
Bandingkan dengan Galaxy A37 5G yang dibanderol Rp 6.599.000. Selisih Rp 1 juta untuk upgrade ke A57 terasa masuk akal jika melihat tambahan RAM dan penyimpanan. Namun, perlu diingat, di rentang harga Rp 7-8 juta, kompetisi dari merek China seperti Xiaomi dan OPPO sangat agresif. Samsung mengandalkan reputasi software update yang lebih panjang, tapi secara hardware murni, A57 bukanlah yang paling kencang di kelasnya.
Galaxy A07 di Rp 2.499.000 tetap jadi pintu masuk termurah ke ekosistem Samsung. Dengan RAM 4 GB dan penyimpanan 64 GB, perangkat ini cocok untuk pengguna dasar—bukan untuk gaming atau multitasking berat.
Galaxy A17 di Rp 3.599.000 menawarkan peningkatan signifikan dengan opsi RAM 8 GB di Rp 4.599.000. Untuk pengguna yang butuh HP kedua atau untuk orang tua, A17 adalah pilihan aman. Namun, jangan berharap performa mulus untuk aplikasi berat—chipset di kelas ini memang dirancang untuk efisiensi, bukan kecepatan.
Dengan harga yang stagnan, tidak ada urgensi untuk membeli di bulan ini—kecuali Anda butuh perangkat baru segera. Strategi terbaik adalah menunggu momen Harbolnas atau promo 9.9 yang biasanya memberikan potongan tambahan atau cashback dari e-commerce.
Rekomendasi kami: Galaxy S26 Ultra untuk fotografer mobile, A57 5G untuk pengguna mid-range yang butuh garansi software panjang, dan Z Flip8 untuk mereka yang mengutamakan gaya. Hindari Fold8 jika budget Anda pas-pasan—S26 Ultra memberi lebih banyak nilai untuk uang Anda. Harga bisa berubah sewaktu-waktu, jadi cek kanal resmi Samsung Indonesia sebelum transaksi.