ACEH — BRIN tidak ingin riset reaktor nuklir berhenti di laboratorium. Lewat Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN), lembaga tersebut mengajak Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) ITS membangun desain sistem instrumentasi dan kendali. Penjajakan kerja sama digelar di Gedung Rektorat ITS, Surabaya, Selasa (19/8).
Kepala PRTRN BRIN Topan Setiadipura menyebut sistem instrumentasi dan kendali adalah komponen paling krusial. Fungsinya menjaga reaktor tetap aman dan stabil selama beroperasi.
"BRIN membutuhkan kolaborator dari perguruan tinggi untuk membangun ekosistem riset yang kuat. Riset tidak boleh berhenti di lembaga penelitian, tetapi harus dapat dikembangkan bersama mitra hingga menghasilkan teknologi yang bermanfaat," ujar Topan.
Ia menegaskan target kerja sama ini bukan sekadar publikasi ilmiah. BRIN ingin menghasilkan produk atau sistem yang bisa langsung dipakai industri dan BUMN.
Perekayasa Ahli Utama BRIN Dhadang Purwadi menjelaskan skema kolaborasi. ITS akan fokus pada pengembangan konsep dan desain sistem kendali. Sementara BRIN membawa pengalaman operasional dan aspek keselamatan dari fasilitas reaktor yang sudah ada.
"BRIN lebih banyak pada sisi aplikatif, sehingga kedua pihak dapat saling melengkapi untuk menghasilkan sistem kendali yang dikembangkan bersama," kata Dhadang.
Dengan pola ini, kampus berperan sebagai penyedia ide segar, sedangkan BRIN menjadi tempat uji coba dan implementasi. Harapannya, proses hilirisasi teknologi berjalan lebih cepat.
Dekan FTIRS ITS Juwari menyambut baik ajakan tersebut. Menurutnya, kompetensi rekayasa sistem yang dimiliki fakultasnya cocok untuk memastikan teknologi yang dihasilkan aman dan bernilai guna.
Juwari ingin ruang lingkup kerja sama diperluas, tidak hanya soal instrumentasi dan kendali. Peluang pengembangan terbuka di bidang proses, material, pelatihan, hingga pemanfaatan fasilitas riset bersama.
"Kerja sama ini juga membuka peluang pembimbingan mahasiswa," harap Juwari. Artinya, mahasiswa ITS berpotensi terlibat langsung dalam riset reaktor, mulai dari magang, tugas akhir, hingga pelatihan di fasilitas milik BRIN.
Bagi BRIN, kolaborasi dengan ITS adalah bagian dari strategi membangun ekosistem riset nasional yang menghubungkan kampus, lembaga riset, dan industri. Dengan melibatkan mahasiswa sejak awal, diharapkan lahir talenta baru yang memahami teknologi nuklir dari hulu ke hilir.
Langkah ini juga membuka jalan bagi adopsi hasil riset oleh industri manufaktur dalam negeri. Pengembangan sistem kendali reaktor ini menjadi batu loncatan menuju kemandirian teknologi energi nuklir Indonesia.