ACEH — Razer Soma Chroma resmi dijual global dengan banderol US$500 atau sekitar Rp 8,3 juta. Di rentang harga tersebut, kursi ini bersaing langsung dengan Secretlab Titan Evo dan Razer Iskur V2, dua produk yang punya rekam jejak lebih mapan di segmen kursi gaming premium.
Masalahnya, Soma Chroma hadir dengan kelengkapan yang minim. Untuk menyalakan lampu RGB di bagian sandaran punggung, pengguna harus menyediakan power bank sendiri. Kabel USB-C bawaan juga pendek, tidak ada adaptor daya, dan bantal kepala dijual terpisah. Untuk produk seharga belasan juta rupiah, kelengkapan ini terasa janggal.
Basis dudukan Soma Chroma memakai foam cold-cured dengan lapisan kain knit yang lembut. Dalam pengujian selama lebih dari satu bulan, dudukan ini terasa empuk namun tetap padat, dan lebarnya cukup lega untuk duduk bersila. Sandaran punggungnya juga mendukung postur dengan baik.
Sayangnya, sandaran lengan hanya bisa diatur naik-turun dan berputar, tanpa opsi geser maju-mundur atau miring seperti kompetitor di kelas harga yang sama. Roda kursi juga sangat kaku karena memenuhi standar keselamatan EN 1335-2 Uni Eropa, sehingga sulit digeser di lantai.
Dua strip lampu RGB terletak di bagian atas sandaran punggung, menghadap ke depan. Saat pengguna duduk, lampu ini berada tepat di belakang kepala dan tidak terlihat sama sekali. Hanya orang lain yang melihatnya dari depan, itupun hanya jika kursi diposisikan menghadap kamera—misalnya untuk kebutuhan streaming.
Untuk menyalakan RGB, pengguna harus menghubungkan kabel USB-C pendek ke power bank yang bisa disembunyikan di kantong kecil bawah dudukan. Baterai internal tidak tersedia, bahkan tidak ada opsi menambahkannya saat checkout. Razer juga tidak menyertakan kabel ekstensi atau adaptor di kotak penjualan.
Logo hijau Razer yang mencolok di sandaran punggung juga membatasi pilihan warna RGB. Warna-warna seperti merah, biru neon, atau pink akan berbenturan dengan aksen hijau tersebut.
Lapisan kain soft-touch pada Soma Chroma terasa nyaman saat kulit bersentuhan langsung, bahkan di cuaca panas sekalipun. Namun, saluran perforasi di dudukan yang dirancang untuk sirkulasi udara justru menjadi penampung debu dan bulu hewan peliharaan. Pengguna perlu membersihkannya secara rutin dengan blower.
Proses perakitan Soma Chroma relatif mulus dan bisa dilakukan sendiri meski Razer merekomendasikan dua orang. Manual berukuran besar disertakan, namun ada satu hal yang perlu diperhatikan: tidak ada baut pengaman pada mekanisme recline. Jika tuas kemiringan ditekan terlalu agresif saat memasang sandaran, braket berisiko menyentak ke depan.
Soma Chroma dijual seharga US$500 di Amerika Serikat dan £500 di Inggris (sekitar Rp 8,3 juta). Tidak ada pilihan warna atau material lain. Garansi resmi tiga tahun, dan bisa ditingkatkan menjadi lima tahun jika membeli langsung dari Razer.com dan mendaftarkan produk.
Soma Chroma adalah kursi yang sangat nyaman untuk duduk diam dalam waktu lama. Namun, kelengkapan yang minim dan RGB yang kurang fungsional membuatnya sulit direkomendasikan di harga Rp 8,3 juta. Untuk kebutuhan serupa, Secretlab Titan Evo menawarkan dukungan lumbar magnetik yang bisa dilepas dan garansi lima tahun. Razer Iskur V2 juga punya lumbar support bawaan yang lebih solid.
Kursi ini cocok untuk streamer yang ingin menampilkan efek RGB sinkron dengan game, dan tidak keberatan mengeluarkan biaya tambahan untuk power bank, kabel ekstensi, dan bantal kepala. Untuk pengguna yang menginginkan kursi gaming lengkap tanpa ribet, opsi lain di kelas harga yang sama lebih masuk akal.