ACEH — Hasil riset pasar Censuswide ini menjadi ironi bagi industri otomotif. Produsen mobil terus berlomba menjejali produk terbaru dengan Sistem Bantuan Pengemudi Tingkat Lanjut (ADAS) dan berbagai fitur kenyamanan, tetapi data di lapangan menunjukkan fitur-fitur tersebut seringkali hanya menjadi pajangan di atas kertas spesifikasi. Temuan ini relevan bagi calon pembeli di Indonesia yang kerap mempertimbangkan kelengkapan ADAS sebagai salah satu syarat utama sebelum mengeluarkan uang puluhan juta rupiah.
Data survei memetakan kebiasaan pengemudi secara spesifik. Angka 25,9% pemilik mobil mengaku belum pernah mengaktifkan adaptive cruise control (ACC) sama sekali sejak kendaraan mereka keluar dari dealer. Lebih memprihatinkan lagi, 7% responden lainnya secara jujur mengaku tidak tahu cara mengoperasikan fitur tersebut.
Fenomena serupa terjadi pada fitur penjaga lajur (lane keeping assist). Hampir 18% pengguna memilih untuk tidak menggunakarinnya. Sementara itu, fitur pengereman darurat otomatis (AEB) yang menjadi standar keselamatan di banyak mobil modern justru paling sering dimatikan secara paksa oleh pengemudi.
Alasan utama pengemudi mematikan fitur keselamatan bukanlah karena ketidaktahuan, melainkan karena rasa frustrasi. Banyak responden mengeluhkan bahwa sistem ADAS terlalu sensitif. Pengereman darurat yang aktif tanpa sebab jelas atau peringatan penjaga lajur yang terlalu sering berbunyi justru dianggap menciptakan masalah baru dibandingkan mencegah tabrakan.
Keluhan ini menjadi catatan penting bagi produsen. Kalibrasi sensor yang terlalu agresif untuk kondisi jalan Eropa belum tentu cocok dengan karakter jalanan di Indonesia yang padat dan dinamis. Pengemudi lokal yang terbiasa dengan manuver cepat dan ruang antar kendaraan yang sempit bisa jadi lebih cepat merasa terganggu dengan intervensi sistem yang berlebihan.
Bagi pembeli mobil baru di pasar Indonesia, temuan ini adalah pengingat untuk lebih bijak. Sebelum memilih varian tertinggi yang harganya bisa selisih puluhan juta rupiah hanya demi paket ADAS lengkap, ada baiknya mengecek ulang kebutuhan harian. Jika perjalanan lebih banyak dilakukan di dalam kota dengan kemacetan stop-and-go, fitur seperti ACC mungkin jarang menemukan momen yang tepat untuk digunakan.
Namun, bukan berarti fitur ini tidak berguna. Teknologi seperti AEB tetap menjadi jaring pengaman terakhir yang bisa menyelamatkan nyawa dalam situasi darurat yang tidak terduga. Masalahnya bukan pada kehadiran fitur, melainkan pada eksekusi dan edukasi pengguna.
Data Censuswide menyiratkan adanya kegagalan komunikasi antara pabrikan dan konsumen. Dealer perlu memberikan edukasi yang lebih mendalam saat serah terima kendaraan, bukan sekadar menjelaskan cara mematikan lampu atau mengatur kursi. Pengemudi perlu tahu kapan dan bagaimana ADAS bekerja optimal, serta bagaimana cara menyesuaikan sensitivitasnya.
Di sisi lain, produsen harus berani melakukan penyempurnaan algoritma. Fitur keselamatan yang baik seharusnya bekerja secara intuitif, tidak mengganggu, dan hanya aktif saat benar-benar dibutuhkan. Jika tidak, fitur canggih tersebut hanya akan menjadi biaya tambahan yang sia-sia di mata konsumen.