BANDA ACEH — Sebuah esai berjudul "Makna Rindu, Antara Majnun dan Hamzah Fansuri" karya M. Azril Ihksan menghadirkan perenungan filosofis tentang arti kerinduan. Tulisan yang diterbitkan melalui Lembaga Seni SPS Revival dan Media Sagoe TV ini membandingkan dua tokoh besar dari dunia berbeda: pangeran duka dari Bani Amir, Qays al-Mulawwah, dan ulama sufi asal Barus, Hamzah Fansuri.
Nizami Ganjavi, penyair Persia, mengabadikan kisah Majnun dalam karya monumental Layli o Majnun. Di Gurun Najd, Qays yang dijuluki Majnun atau orang gila, merasakan kepedihan luar biasa akibat perpisahan dengan kekasihnya, Layla. Kerinduannya bersumber dari tiga unsur: keindahan Layla, suara Layla, dan perpisahan dengannya.
Di sisi lain, Hamzah Fansuri lahir di Barus, tanah Melayu-Aceh yang berbatasan langsung dengan dinginnya ombak Samudra Pasai. Berbeda dengan Majnun yang merindu manusia, Fansuri mengais kerinduan rohani. Ia berkelana hingga ke Yerusalem demi kedekatan dengan Ilahi, memadukan syair puitis dengan kedalaman risalah.
Rumah Layla tenggelam di bawah larangan orang tuanya. Nama Majnun menjadi tabu di sana, namun getaran kerinduan gila tetap membawanya ke rumah sang kekasih tanpa alas kaki. Bahkan anjing yang matanya mirip Layla pun diciumnya di perjalanan, jiwanya hanya tertuju ke satu arah.
Hamzah Fansuri menempuh jalan berbeda. Dari tepi Samudra Asia, India, hingga Arabia, pujangga sufi itu mencari makna cinta dan kerinduan ilahi. Dalam pengembaraannya, ia menemukan rumah cinta yang hakiki dan manis, sebuah metafora yang kemudian ia tuangkan dalam syair terkenalnya.
Majnun menuturkan kalimat yang menandai puncak kerinduannya: "Akulah Layla, tak ada lagi jarak antara cinta dan yang dicintai." Dalam bahasa Arab, ungkapan itu berbunyi Ana Layla, fama 'ada hunaka masafatun baynal-'asyiqi wal-ma'syuq. Jiwanya melebur pada ingatan akan Layla.
Hamzah Fansuri menjawab dengan syair yang tak kalah dalam:
"Hamzah fansuri di dalam makkah, mencari tuhan di bait al-ka'bah, dari Barus ke Quddus terlalu payah, akhirnya dapat di dalam rumah."
Metafora rumah dalam syair itu merujuk pada hati. Kerinduan sejati, menurut Fansuri, terletak pada ikatan hati kepada pencipta, bukan pada hal yang tampak di mata.
Majnun memilih melenyapkan diri dalam pengingatan kepada Layla di gurun pasir yang tandus. Hamzah Fansuri justru menemukan makna rindu setelah menjelajah timur dan barat dunia. Keduanya, dengan cara masing-masing, memaknai rindu sebagai sesuatu yang berasal dari separuh jiwa.
Esai ini menjadi pengingat bahwa kerinduan, dalam bentuk apa pun, adalah energi yang mampu menggerakkan manusia melampaui batas dirinya. Perbedaan objek rindu antara manusia dan Tuhan tidak mengubah kedalaman getarannya di dalam hati.