BIREUEN — Usianya memang paling muda di antara para finalis, tapi itu tidak menghalangi Aqul—sapaan akrabnya—untuk berdiri paling depan saat pengumuman pemenang. Ia berhasil menundukkan sembilan duta dayah lainnya yang semuanya duduk di bangku SMA, sebuah pencapaian yang jarang terjadi di ajang antar dayah.
Kemenangan ini berawal dari seleksi internal di Dayah Darussa’adah Cot Tarom Baroh. Panitia Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) XIV menetapkan aturan tegas: siapa pun yang mengumpulkan nilai tertinggi dalam lomba pidato bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab, dialah yang berhak mewakili dayah. Hasilnya mengejutkan—nilai Aqul di tingkat SMP jauh melampaui perolehan juara pidato tingkat SMA.
Menjelang lomba antar dayah, Aqul sempat goyah. Beban sebagai peserta termuda membuatnya ragu melangkah ke podium. Iskandar, ayah Aqul, membaca kegelisahan itu dan memilih cara berbeda untuk menguatkan putranya—bukan dengan nasihat panjang, melainkan sebuah pepatah Aceh.
"Gunong Geurutee ka singet siblah, jimeupok gajah ngon cangguk puree. Talo cangguk gana that meugah, talo gajah ube raya malee," ujar Iskandar kepada Komparatif.ID, Selasa (25/8/2026).
Pepatah itu bermakna dalam: dalam pertarungan yang tidak seimbang, kekalahan orang kecil adalah hal biasa, tetapi kekalahan orang besar justru menjadi aib. Petuah itu membakar semangat Aqul. Ia berangkat ke arena dengan tekad membuktikan bahwa dirinya lahir dengan mental juara.
Keberhasilan Aqul menyabet dua trofi dan dua sertifikat juara 1 pada 24 Agustus 2026 itu mendapat sambutan hangat dari pihak madrasah. Dhiaul Hadi, S.Pd.I., Kepala MTsS Darussa’adah Cot Tarom Baroh, menyebut Aqul sebagai siswa cerdas yang mampu bersaing di atas levelnya.
"Capaian prestasi yang diraih Ananda Aqul, hendaknya bisa menjadi motivasi bagi seluruh santri kami di tingkat SMP dan SMA," ujarnya.
Kemampuan orasi Aqul memang tidak terbentuk dalam semalam. Sebelum menimba ilmu di dayah, ia merupakan alumnus Rumah Qur’an Baiti Adnani, Dayah Darul Muslimin Desa Lhok Awe-awe, Kecamatan Kuala, dan MIN 49 Bireuen. Kombinasi pendidikan agama yang kuat sejak dini menjadi fondasi keberaniannya tampil di depan umum.
Kemenangan ini mencatatkan nama Aqul sebagai salah satu santri muda berbakat di Bireuen, sekaligus membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk bersaing di level yang lebih tinggi.