KUTACANE — Sebanyak puluhan anggota Pramuka Saka Bhayangkara Polres Aceh Tenggara mengikuti Perkemahan Bakti Sosial III di Bumi Perkemahan TNGL, Ketambe, sejak Kamis (27/8/2026). Mereka berasal dari berbagai sekolah menengah di Kabupaten Aceh Tenggara yang tergabung dalam gugus depan masing-masing.
Kegiatan bertema "Peran Gerakan Pramuka Aceh Tenggara Ikut Serta Membantu Melestarikan Alam" ini berlangsung selama lima hari hingga Senin (31/8/2026). Pembukaan perkemahan dilakukan di lokasi yang sama dan dihadiri sejumlah pejabat serta personel kepolisian setempat.
Wakapolres Aceh Tenggara Kompol Rafliandi menegaskan bahwa upaya menjaga kelestarian alam merupakan kewajiban seluruh elemen masyarakat, tidak terkecuali generasi muda. Hal ini disampaikannya saat membuka perkemahan di kawasan yang menjadi habitat orangutan Sumatra tersebut.
"Melestarikan alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun petugas kehutanan, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama," kata Rafliandi, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, kegiatan kepramukaan yang bersentuhan langsung dengan alam menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kepedulian peserta terhadap lingkungan sejak dini.
Pemilihan Ketambe sebagai lokasi perkemahan bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan salah satu pintu masuk TNGL yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi, termasuk flora dan fauna khas Sumatra.
Para peserta mendapat kesempatan mengenal langsung kawasan konservasi tersebut sekaligus memahami pentingnya menjaga hutan dari kerusakan. Pengalaman ini diharapkan membentuk kesadaran ekologis yang tidak bisa didapatkan hanya dari pembelajaran di dalam kelas.
Selain kegiatan kepramukaan, rangkaian perkemahan ini juga diisi dengan berbagai aktivitas bakti sosial. Kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk karakter disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta menumbuhkan semangat gotong royong antar peserta.
Melalui kombinasi kegiatan alam terbuka dan pengabdian masyarakat, peserta diharapkan memperoleh pengalaman kepramukaan yang utuh. Lebih jauh lagi, mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki kesadaran konkret untuk menjaga kelestarian alam di lingkungan masing-masing setelah kembali ke rumah dan sekolah.