Strava Ungkap Data Pelari Indonesia Jelang Jakarta Running Festival 2026

Penulis: Yasir  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32:31 WIB
Country Lead Strava Brazil and Southeast Asia, Rosana Fortes, memaparkan temuan data pengguna Strava Indonesia dalam wawancara bersama awak media di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

ACEH — Strava mencatat 92% peserta Jakarta Running Festival 2025 tergabung dalam Strava Club, menandakan kuatnya budaya komunitas dalam olahraga lari di Indonesia. Data ini dirilis menjelang JRF 2026, dengan tantangan segmen Strava tahun lalu diikuti hampir 30 ribu pelari. Temuan ini menyoroti pergeseran gaya berolahraga pengguna Indonesia yang kian kolektif dan multi-disiplin.

Country Lead Strava Brazil and Southeast Asia, Rosana Fortes, memaparkan temuan tersebut dalam wawancara bersama awak media di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Menurutnya, pengguna Strava di Indonesia tidak hanya berlari untuk mengejar target pribadi, tetapi juga aktif berbagi aktivitas dan mencari dukungan dari komunitas.

Peran Komunitas dalam Budaya Lari Indonesia

Angka 92% peserta JRF 2025 yang tergabung di Strava Club menjadi indikator paling jelas. Rosana menilai pengguna di Indonesia cenderung bergabung dengan berbagai komunitas olahraga, mulai dari lari, renang, hingga triathlon.

Kecenderungan itu membuat olahraga tidak lagi berhenti sebagai aktivitas individual. Strava melihatnya sebagai ruang untuk membangun koneksi dan saling memberi motivasi antaranggota.

"Anda tidak seperti seorang atlet solo. Anda suka bersama orang lain, mendapatkan energi dan dukungan tambahan untuk terus mendorong diri sendiri," tutur Rosana.

Tantangan Segmen JRF 2025 Diikuti Hampir 30 Ribu Orang

Keterlibatan Strava di JRF 2025 memberi gambaran konkret soal antusiasme pelari terhadap aktivitas berbasis komunitas. Tantangan segmen yang digelar tahun lalu diikuti hampir 30 ribu orang.

Partisipasi sebesar itu menjadi salah satu alasan Strava kembali hadir di gelaran tahun ini. Pengalaman JRF 2025 disebut Rosana sebagai konteks penting untuk merancang keterlibatan serupa di JRF 2026.

Dalam wawancara tersebut, Rosana juga menyoroti perkembangan komunitas lari dan semakin terlihatnya brand lokal dalam ekosistem olahraga Indonesia. Kolaborasi antara komunitas, kreator, dan brand dinilainya sebagai bagian menarik dari perkembangan budaya olahraga Tanah Air.

Pelari Indonesia Mulai Gabungkan Lari dengan Latihan Kekuatan

Selain tren komunitas, Strava mencatat pengguna di Indonesia dan Asia Tenggara semakin banyak mengombinasikan beberapa jenis olahraga. Lari kini kerap dilengkapi latihan kekuatan, Pilates, hingga jalan kaki.

Rosana menyebut tren itu menarik karena pengguna tidak lagi mengidentifikasi diri melalui satu jenis olahraga saja. Mereka mulai menjalani berbagai aktivitas demi menjaga kebugaran secara menyeluruh.

Perubahan ini turut mendorong Strava mengembangkan fitur pendukung aktivitas di luar lari, termasuk muscle map untuk melihat kelompok otot yang dilatih serta latihan kekuatan terpandu.

Tidak Perlu Smartwatch untuk Ikut Latihan Kekuatan

Rosana menegaskan pengguna tidak wajib memiliki smartwatch untuk mengikuti tutorial latihan kekuatan di Strava. Perangkat yang terhubung memang memberi data tambahan, tetapi panduan latihan tetap bisa diakses langsung lewat aplikasi.

Kemudahan akses ini relevan bagi pasar Indonesia yang basis penggunanya luas dan tidak semuanya memakai perangkat wearable. Strava tampaknya ingin menjaga latihan kekuatan tetap inklusif, bukan eksklusif bagi pemilik jam pintar.

Kolaborasi Komunitas, Kreator, dan Brand Lokal

Rosana menilai kolaborasi antara komunitas, kreator, dan brand menjadi bagian menarik dari perkembangan budaya olahraga di Indonesia. Brand lokal semakin terlihat dalam ekosistem yang sebelumnya banyak diisi merek global.

Bagi Strava, kombinasi itu memperkuat posisi aplikasi sebagai lapisan sosial di atas aktivitas fisik. Pengguna tidak sekadar mencatat jarak dan pace, tetapi juga membangun identitas lewat komunitas yang diikuti.

"Orang Indonesia suka menginspirasi orang lain dengan membagikan aktivitas mereka kepada komunitas. Ini menjadi salah satu hal yang luar biasa dari pengguna Strava di Indonesia," pungkas Rosana.

Bagi pelaku bisnis digital, data Strava ini memperlihatkan peluang kolaborasi brand dengan komunitas lari yang tumbuh organik. Sementara bagi pengguna, JRF 2026 menjadi ajang berikutnya untuk menguji seberapa besar dorongan komunitas memengaruhi performa lari mereka.

Reporter: Yasir
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top