ACEH — Penunjukan Sri Mulyani diumumkan Bank Dunia sebagai bagian dari restrukturisasi mekanisme pendanaan International Development Association (IDA), lembaga yang menyalurkan dana ke 75 negara berpenghasilan rendah. Sebagai Ketua Bersama, ia akan berpasangan dengan tokoh global lainnya untuk mengawasi proses negosiasi replenishment atau pengisian dana IDA yang berlangsung setiap tiga tahun sekali.
Mandat utama yang diemban Sri Mulyani adalah memastikan setiap dolar yang disalurkan IDA memberikan dampak terukur bagi pengentasan kemiskinan. Ia juga bertugas menjembatani kepentingan negara donor dan negara penerima agar target pendanaan tercapai tanpa mengorbankan tata kelola.
Tekanan yang dihadapi cukup berat. Banyak negara termiskin saat ini menghadapi beban utang yang membengkak pasca-pandemi, sementara kapasitas fiskal mereka untuk membiayai pembangunan justru menyempit. Peran Sri Mulyani dinilai krusial karena pengalamannya memimpin reformasi fiskal di Indonesia dan posisinya sebagai mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Pengalaman Sri Mulyani tidak diragukan dalam tata kelola keuangan multilateral. Sebelum kembali ke Indonesia, ia menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia periode 2010-2016, periode di mana ia menangani portofolio pinjaman senilai miliaran dolar. Kombinasi pengalaman di sisi pemerintah dan lembaga donor menjadi alasan utama kepercayaan ini diberikan.
Kredibilitasnya di mata komunitas internasional juga menjadi modal besar. Sebagai Menteri Keuangan yang memimpin G20 Presidency Indonesia pada 2022, ia terbiasa memediasi kepentingan negara maju dan berkembang. Dalam konteks IDA, kemampuan ini penting untuk mendorong negara donor menambah kontribusi di tengah persaingan kebutuhan pendanaan global yang semakin ketat.
Bagi negara-negara termiskin, kepemimpinan Sri Mulyani diharapkan mempercepat pencairan dana dan menyederhanakan prosedur yang selama ini kerap menjadi hambatan. Ia juga diharapkan mendorong skema pendanaan baru yang lebih fleksibel, termasuk mekanisme penanganan utang untuk negara yang mengalami krisis.
Sementara bagi Indonesia, posisi ini memperkuat pengaruh diplomatik di kancah ekonomi global. Meski Indonesia saat ini berstatus negara penerima pinjaman IDA, kehadiran Sri Mulyani di kursi pimpinan memberikan akses strategis bagi kepentingan nasional dalam forum multilateral. Ini juga menjadi pengakuan internasional atas kapasitas individu Indonesia dalam mengelola arsitektur keuangan dunia.
Langkah berikutnya yang dinanti pasar adalah keputusan Bank Dunia terkait target pengumpulan dana IDA untuk periode mendatang, yang diperkirakan mencapai rekor tertinggi. Seluruh proses negosiasi akan berlangsung hingga pertengahan tahun ini, dengan hasil akhir yang akan diumumkan dalam pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF.