ACEH — Sinema horor Indonesia era 70-an sampai 80-an punya daya tarik yang sulit ditiru film modern. Tanpa CGI, film-film lawas ini justru menebar ketakutan lewat atmosfer kelam dan cerita mistis yang akrab dengan budaya lokal. Berikut deretan karya yang masih layak ditonton ulang.
Nama Suzzanna sampai kini masih jadi jaminan mutu untuk tontonan mistis yang bikin penonton susah tidur. Cerita yang diangkat biasanya berakar dari mitos, legenda urban, atau praktik ilmu hitam yang pada masa itu terasa sangat nyata. Maraton film klasik seperti ini bisa jadi pilihan hiburan menegangkan saat akhir pekan.
Rapi Films merilis film ini pada 1980 dengan Sisworo Gautama Putra sebagai sutradara. W.D. Mochtar, Siska Widowati, dan Ruth Pelupessy tampil sebagai pemeran utama. Ceritanya berpusat pada keluarga kaya yang diganggu kekuatan gaib setelah sang ibu meninggal.
Kengeriannya dibangun rapi tanpa mengandalkan jumpscare murahan. Kesuksesan film ini sampai didistribusikan ke Jepang dan Amerika Serikat dalam format VHS berjudul Satan's Slave. Karya inilah yang kemudian menginspirasi Joko Anwar membuat versi remake pada 2017.
Soraya Intercine Films merilis film ini pada 1988, lagi-lagi garapan Sisworo Gautama Putra. Suzzanna beradu akting dengan Fendy Pradana sebagai Suketi, arwah sundel bolong yang dibangkitkan dukun dan diubah jadi manusia agar bisa dinikahi pemuda asal Jakarta.
Kebahagiaan mereka hancur saat saingan bisnis sang suami mencabut paku di kepala Suketi. Suketi pun kembali jadi iblis penuntut balas. Suzzanna disebut menjalani ritual kejawen sungguhan sebelum syuting demi mendalami karakternya.
Ali Shahab dan Awaludin menyutradarai film ini pada 1971, dengan Suzzanna, Mieke Wijaya, dan Dicky Suprapto sebagai pemeran. Kisahnya soal kakak perempuan dengki yang mengubur adik tirinya hidup-hidup saat hamil tua.
Sang adik bangkit dari kematian sebagai hantu beranak dalam kubur dan meneror desa untuk balas dendam. Pencahayaan temaram dan efek kamera kuno justru memunculkan sensasi klaustrofobia nyata di adegan penguburan. Film ini dianggap pelopor mitos hantu wanita melahirkan di sinema Nusantara.
Rapi Films merilis film ini pada 1981, disutradarai Sisworo Gautama Putra, dan mengukuhkan Suzzanna sebagai ikon mistis. Barry Prima jadi lawan mainnya dalam kisah Alisa, mantan pekerja seks yang berusaha mengubah hidup.
Masa lalunya mengejar saat ia diperkosa kelompok penjahat hingga akhirnya bunuh diri. Alisa bangkit sebagai hantu sundel bolong dan memangsa para pelakunya satu per satu dengan cara sadis. Naskahnya berani mengangkat tema sosial yang jarang disentuh film sezaman.
Empat dari film di atas diperkuat Suzzanna, dan itu bukan kebetulan. Era 70-an hingga 80-an memang jadi masa keemasan sinema mistis Nusantara, dengan nama-nama seperti mendiang Suzzanna sebagai magnet utama.
Ketakutan psikologis yang dibangun film-film ini sulit diduplikasi produksi modern. Tata rias ikonis dan jalan cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat jadi kunci daya tahan karyanya sampai sekarang.
Lima film ini membuktikan horor Indonesia tak butuh efek mahal untuk bikin merinding. Cukup atmosfer kelam, cerita mistis yang akrab, dan akting totalitas para pemainnya.