Pencarian

Bulog Lelang 380 Ribu Ton Beras Turun Mutu, Prioritaskan UMKM

Selasa, 27 Oktober 2026 • 09:04:31 WIB
Bulog Lelang 380 Ribu Ton Beras Turun Mutu, Prioritaskan UMKM
Perum Bulog melelang 380 ribu ton beras turun mutu untuk diolah menjadi tepung.

ACEH — Perum Bulog melelang 380 ribu ton beras turun mutu untuk diolah menjadi tepung, dengan prioritas pembeli UMKM di seluruh Indonesia. Lelang berjalan di KPKNL berbagai daerah setelah diputuskan dalam rapat koordinasi pemerintah pada 7 September 2026. Kebijakan ini menyasar stok Cadangan Beras Pemerintah yang menumpuk lebih dari 5 juta ton.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan lelang 380 ribu ton beras turun mutu diprioritaskan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Beras itu akan diolah menjadi tepung, bukan dijual sebagai beras konsumsi. Rizal menyampaikan hal tersebut usai Rapat Koordinasi Terbatas Pangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Mekanisme lelang kini memasuki proses di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) di seluruh Indonesia. Penjualan tidak dipusatkan di Jakarta, melainkan disebar agar pelaku usaha daerah ikut mendapat akses bahan baku.

Mengapa Beras Ini Turun Mutu

Stok yang dilelang merupakan beras yang mengalami penurunan kualitas setelah disimpan lebih dari enam bulan, sesuai ketentuan pemerintah. Pemerintah memilih menghilirkan beras tersebut menjadi tepung agar nilainya tidak hilang.

Alasannya sederhana: dibiarkan terlalu lama, beras akan makin rusak dan negara menanggung kerugian. "Kan daripada rusak, berasnya rusak, terus nanti kalau rusak kan negara jadi rugi," ujar Rizal.

Keputusan hilirisasi ini diambil dalam rapat koordinasi pemerintah pada 7 September 2026. Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang posisinya masih tinggi, di atas 5 juta ton.

Harga Minimal Rp 11.000 per Kilogram

Pemerintah memperkirakan beras bermutu menurun itu bisa dilelang ke industri pengolahan tepung dengan harga minimal Rp 11.000 per kilogram. Angka itu hanya berselisih sekitar Rp 1.000 dari harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijual ke masyarakat Rp 12.500 per kilogram.

Selisih tipis tersebut sengaja dijaga agar pelaku usaha tetap punya ruang mencetak keuntungan. Harga jual mengikuti kebijakan pemerintah dengan mempertimbangkan harga pasar.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut hilirisasi ini juga menyasar sisi hilir pasar tepung. "Itu (stok beras) yang mutunya turun, itu nanti bisa dibeli oleh pabrik-pabrik pengusaha tepung, itu (stok beras turun mutu) untuk dijadikan tepung, sehingga harga tepung yang naik juga bisa turun," kata Zulkifli.

Siapa yang Kebagian

Prioritas utama adalah UMKM, bukan pedagang besar di kota-kota tertentu. "Prioritasnya untuk rakyat, UMKM-UMKM. Makanya nanti dijualnya enggak di Jakarta doang dilelangnya, tapi di seluruh tanah air," kata Rizal.

Bagi pengusaha kecil, lelang ini membuka jalan memperoleh bahan baku dengan harga lebih kompetitif. Pabrik dan industri pengolahan bisa memanfaatkan beras tersebut sebagai bahan baku setelah melewati proses pengolahan sesuai kebutuhan masing-masing.

Penyebaran lelang lewat KPKNL daerah menjadi kunci. UMKM di luar Jawa yang selama ini kesulitan mendapat pasokan murah kini punya peluang setara dengan pengusaha di pusat.

Jaga Stok Tetap Produktif

Bulog memastikan proses lelang berjalan sesuai aturan sekaligus menjaga tata kelola cadangan beras pemerintah. Tujuannya agar stok yang menumpuk tidak berakhir sia-sia, tetapi tetap memberi manfaat ekonomi dan sosial.

Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai membenahi cara mengelola CBP yang membengkak. Selama stok di atas 5 juta ton, risiko penurunan mutu terus mengintai dan berpotensi menimbulkan kerugian negara.

Dengan melepas 380 ribu ton ke pasar tepung, Bulog sekaligus mengurangi beban penyimpanan dan memberi napas baru bagi industri pengolahan pangan dalam negeri.

Follow www.pantauaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks