Perut Buncit Meski Sudah Stop Nasi? Dokter Gizi Ungkap Penyebabnya

Penulis: Yasir  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 11:33:31 WIB
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan alasan lingkar perut tak berkurang meski nasi putih telah dihindari.

ACEH — Banyak ibu muda yang sudah menghindari nasi putih tetap frustrasi karena lingkar perut tak kunjung mengecil. Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan pengganti nasi yang justru bikin kalori bertambah dan cara mengatur porsi yang benar.

Menghindari nasi putih sering dianggap langkah pertama untuk mengecilkan perut buncit. Padahal, lingkar perut banyak orang tak kunjung berkurang meski nasi sudah tidak lagi disentuh.

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menyebut penyebabnya kerap bukan nasi, melainkan kebiasaan mengganti nasi dengan karbohidrat lain yang kalorinya lebih tinggi. Penjelasan itu disampaikan dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (15/10/2026).

Pengganti Nasi yang Justru Bikin Perut Tetap Buncit

dr Yaze menyoroti pola makan yang keliru saat seseorang memutuskan berhenti makan nasi. Nasi dianggap musuh, tetapi asupan karbohidrat dari sumber lain tetap jalan.

"Biasanya orang ngerasa nasi itu dimusuhin, nggak perlu dimakan lagi. Tapi masih makan karbohidrat yang lain, malah misalnya karbohidrat simpleks yang dimakan, misalnya kayak mi, gorengan, atau roti," ungkap dr Yaze.

Menurut dr Yaze, makanan olahan tepung seperti bakmi, bakso, siomay, hingga dimsum masuk kelompok karbohidrat sederhana (simpleks). Konsumsi rutinnya bisa menggagalkan usaha memangkas lemak di perut.

"Jadi misalnya kamu udah enggak makan nasi, tapi masih makan bakmi, makan bakso, siomay, atau misalnya dimsum, ya sama aja. Itu kan karbo juga, malah karbo simpleks. Jadi bikin kamu cepat lapar lagi, jadi akhirnya kalorinya nambah lagi," paparnya.

Nasi Putih Masih Boleh, Asal Porsinya Dikurangi

dr Yaze menegaskan nasi putih bukan makanan yang harus dipantang total. Nasi tetap boleh masuk menu harian, hanya porsinya yang perlu disesuaikan.

"Jadi si nasi putih ini tetap nggak juga jadi 'haram' untuk dimakan, masih boleh, nggak perlu juga di-cut. Cuma memang porsinya lebih sedikit," tegasnya.

Kunci mengatasi perut buncit bukan menghapus nasi dari meja makan, melainkan mengontrol porsi dan membatasi olahan tepung berlebih. Dua hal itu yang paling menentukan hasilnya.

"Berarti sebenarnya enggak perlu si nasi ini bener-bener dikurangin atau disetop sama sekali. Masih boleh makan nasi, cuma memang porsinya mulai dikurangin," pungkas dr Yaze.

Yang Perlu Diperhatikan Ibu Muda Saat Mengatur Karbohidrat

Bagi ibu yang sedang menyusui atau mengurus anak balita, kebutuhan energi tetap tinggi. Menghentikan karbohidrat secara ekstrem justru bisa membuat badan lemas dan mood naik turun.

Sebelum mengubah pola makan drastis, ada baiknya cek dulu isi piring harian. Hitung berapa kali mi instan, gorengan, atau roti masuk dalam sehari, karena sumber kalori itulah yang sering luput dari perhatian.

Ganti camilan tepung dengan buah atau kacang-kacangan, dan pertahankan nasi dalam porsi lebih kecil. Perubahan kecil yang konsisten lebih mudah dijalani ketimbang diet ekstrem yang bikin cepat menyerah.

Kapan Sebaiknya Konsultasi ke Ahli Gizi

Jika lingkar perut tidak berkurang setelah berbulan-bulan mengatur makan, atau muncul keluhan seperti mudah lelah, rambut rontok, dan siklus haid tidak teratur, sebaiknya konsultasi ke dokter atau ahli gizi.

Kondisi tersebut bisa jadi tanda asupan gizi tidak seimbang. Pemeriksaan juga penting bila ada riwayat diabetes, kolesterol tinggi, atau penyakit tiroid di keluarga.

Mengatur porsi karbohidrat, termasuk nasi, lebih efektif daripada menghindarinya sama sekali. Yang perlu diawasi justru camilan tepung dan gorengan yang sering masuk tanpa dihitung.

Reporter: Yasir
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top