BANDA ACEH — Lonjakan impor gas propana dan butana menjadi biang keladi defisit neraca perdagangan Aceh pada Mei 2026. Plh Kepala BPS Provinsi Aceh, Abdul Hakim, mengungkapkan nilai impor gas tersebut mencapai 87,34 juta dolar AS, atau 83,34 persen dari total impor bulan itu.
“Nilai impor Provinsi Aceh pada bulan Mei 2026 sebesar 104,80 juta dolar AS, naik hingga 112,78 persen dibandingkan April 2026,” kata Abdul Hakim dalam siaran langsung akun YouTube BPS Aceh, Kamis (2/7/2026).
Impor Gas dan Pupuk Mendominasi
Selain gas propana dan butana, Aceh juga mengimpor bahan kimia anorganik senilai 14,06 juta dolar AS dan pupuk sebesar 3,41 juta dolar AS. Ketiga komoditas ini menyumbang hampir seluruh nilai impor Aceh pada Mei 2026.
Sebaliknya, ekspor Aceh justru terkontraksi. Nilai ekspor pada Mei 2026 tercatat 52,88 juta dolar AS, turun 7,21 persen dibandingkan April 2026. Meski demikian, secara tahunan masih tumbuh 5,13 persen.
Ekspor Batubara Anjlok, Kopi dan Rempah Justru Naik
BPS mencatat, penurunan ekspor terutama dipengaruhi oleh merosotnya nilai ekspor batubara. Komoditas tambang ini masih mendominasi dengan nilai 36,68 juta dolar AS atau 69,37 persen dari total ekspor, tetapi turun 19,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Beruntung, ekspor kopi dan rempah-rempah justru meningkat signifikan. Nilainya mencapai 13,65 juta dolar AS, naik 50,88 persen secara bulanan. Kopi dan rempah kini menjadi komoditas ekspor terbesar kedua Aceh, menggeser posisi daging dan ikan olahan yang hanya menyumbang 1 juta dolar AS.
India Masih Jadi Pasar Utama, Tiongkok Mengekor
India tetap menjadi tujuan utama ekspor Aceh dengan nilai 22,35 juta dolar AS, setara 42,26 persen dari total ekspor. Komoditas yang dikirim ke negara tersebut didominasi batubara dan produk kimia. Amerika Serikat menyusul di posisi kedua dengan 7,25 juta dolar AS, disusul Tiongkok sebesar 7,16 juta dolar AS dan Vietnam 6,14 juta dolar AS.
“Nilai ekspor barang asal Provinsi Aceh pada bulan Mei 2026 sebesar 52,88 juta dolar AS, turun sekitar 7,21 persen dibandingkan April 2026. Namun dibandingkan Mei tahun lalu masih meningkat sekitar 5,13 persen,” ujar Abdul Hakim.
Defisit neraca dagang ini menjadi catatan bagi pemerintah daerah untuk mendorong diversifikasi ekspor non-batubara dan menekan ketergantungan impor bahan baku industri. Kopi dan rempah yang menunjukkan pertumbuhan positif bisa menjadi andalan baru ke depan.