Spirit Airlines Tutup, TikToker Galang Dana Rp 368 Miliar untuk Akuisisi

Penulis: Redaksi  •  Senin, 04 Mei 2026 | 09:30:08 WIB
Spirit Airlines menghentikan operasional, mempengaruhi 17.000 karyawan secara mendadak.

Spirit Airlines resmi menghentikan seluruh operasional penerbangan secara mendadak pada Sabtu pekan lalu yang berdampak langsung pada 17.000 karyawan. Di tengah kekacauan ini, seorang TikToker menggalang komitmen dana sebesar US$ 23 juta atau sekitar Rp 368 miliar untuk membeli maskapai tersebut melalui kampanye "Spirit 2.0" yang viral di media sosial.

Spirit Airlines mendadak berhenti terbang. Sabtu malam itu menjadi mimpi buruk bagi ribuan penumpang dan 17.000 karyawan yang kehilangan pekerjaan dalam semalam. Maskapai pionir low-cost carrier (LCC) asal Amerika Serikat ini membatalkan seluruh jadwal penerbangan dan meminta pemegang tiket untuk tidak datang ke bandara.

Hunter Peterson, seorang pengisi suara yang sering mengeluhkan layanan maskapai, muncul dengan ide yang awalnya dianggap lelucon. Melalui unggahan di TikTok, Peterson melontarkan pertanyaan spekulatif: bagaimana jika 20 persen orang dewasa di Amerika Serikat patungan seharga satu tiket Spirit untuk membeli maskapai tersebut?

Gagasan ini ternyata direspons serius oleh netizen. Peterson segera meluncurkan situs web sederhana bertajuk "Spirit 2.0: Owned by the People" yang dikerjakannya hanya dalam waktu satu jam. Hingga Minggu kemarin, sebanyak 36.000 "pendiri" telah memberikan komitmen dana yang membuat server situs tersebut sempat tumbang.

Gerakan Spirit 2.0 dan Komitmen Rp 368 Miliar

Meskipun situsnya dibuat secara terburu-buru, antusiasme publik tidak terbendung. Dana komitmen yang terkumpul mencapai US$ 23 juta atau setara Rp 368 miliar (asumsi kurs Rp 16.000). Angka ini menunjukkan betapa besarnya keinginan pengguna untuk mempertahankan opsi penerbangan murah, terlepas dari segala kekurangannya.

Perlu digarisbawahi bahwa dana tersebut bukanlah uang tunai yang sudah ditransfer. Angka tersebut merupakan komitmen non-binding atau janji kontribusi jika proyek ini benar-benar berjalan. Peterson sendiri menyadari bahwa mengoperasikan maskapai jauh lebih kompleks daripada sekadar mengumpulkan massa di media sosial.

“Saya tahu apa yang saya tidak tahu,” ujar Peterson dalam video terbarunya. Dia mulai merekrut pengacara aviasi dan praktisi hubungan masyarakat secara terbuka. Peterson menambahkan, "Kalian berkomitmen pada lelucon ini, jadi saya juga berkomitmen pada lelucon ini."

Ambisi vs Realitas Industri Aviasi

Langkah Peterson menghadapi tembok realitas yang sangat tebal. Biaya untuk mengakuisisi dan meluncurkan kembali sebuah maskapai penerbangan komersial membutuhkan dana mencapai miliaran dolar, bukan sekadar jutaan. Selain modal, regulasi keamanan terbang dan izin rute merupakan tantangan birokrasi yang sangat berat.

Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi gerakan "Spirit 2.0":

  • Modal Operasional: Biaya bahan bakar, perawatan pesawat, dan gaji kru membutuhkan likuiditas triliunan rupiah per bulan.
  • Regulasi FAA: Izin terbang dari otoritas penerbangan Amerika Serikat memerlukan audit ketat yang memakan waktu lama.
  • Utang Perusahaan: Spirit Airlines menutup operasi karena beban finansial yang berat, yang harus ditanggung oleh pemilik baru.
  • Infrastruktur Bandara: Hak sewa gerbang (gate) di bandara-bandara besar biasanya menjadi rebutan maskapai raksasa saat satu maskapai kolaps.

Dampak bagi Konsumen Maskapai Murah

Fenomena ini mencerminkan kecemasan konsumen terhadap monopoli maskapai besar. Di Indonesia, situasi serupa sering terjadi ketika maskapai LCC mengalami kendala operasional. Konsumen rela "pasang badan" karena hilangnya satu pemain murah akan langsung mendongkrak harga tiket di seluruh pasar.

Spirit Airlines selama ini dikenal dengan model bisnis no-frills yang sangat ketat, mirip dengan pola operasional maskapai bertarif rendah di pasar domestik kita. Hilangnya Spirit berarti hilangnya standar harga terendah di pasar penerbangan Amerika Serikat.

Hingga saat ini, Peterson masih terus menggalang dukungan sambil mencari pakar hukum yang bersedia membantu mewujudkan "koperasi maskapai" pertama di dunia ini. Meski peluang keberhasilannya secara bisnis sangat kecil, gerakan ini telah berhasil menarik perhatian dunia pada krisis yang dialami ribuan pekerja industri penerbangan.

Reporter: Redaksi
Back to top