Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengumpulkan para direktur utama BUMN dalam agenda Danantara CEO Program angkatan I pada Senin (4/5/2026) guna mematangkan strategi transformasi perusahaan pelat merah. Program ini menjadi krusial mengingat data menunjukkan 70 persen upaya transformasi korporasi seringkali berakhir gagal akibat lemahnya kepemimpinan dalam eksekusi. Penguatan visi dari level pimpinan tertinggi diharapkan mampu menjaga keberlanjutan nilai ekonomi dan sosial yang dihasilkan perusahaan negara bagi masyarakat.
Transformasi di tubuh perusahaan negara kini memasuki babak baru di bawah komando Danantara. Dalam forum perdana yang mempertemukan para pimpinan puncak BUMN tersebut, Dony Oskaria menggarisbawahi bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak lagi hanya bergantung pada besarnya aset, melainkan ketajaman visi sang CEO. Pemimpin tertinggi di entitas besar seperti BRI, Pertamina, hingga PLN dituntut memiliki pemetaan yang presisi terhadap kondisi internal sebelum melangkah ke arah perubahan.
“Seorang CEO dia harus tau current situation daripada companynya dan dia mendesign future outlook daripada perusahaannya,” ujar Dony dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (4/5/2026). Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap posisi perusahaan saat ini adalah fondasi utama sebelum seorang pemimpin merumuskan proyeksi masa depan. Visi yang kuat saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kemampuan mengomunikasikannya secara efektif ke seluruh lapisan organisasi.
Dony menjelaskan bahwa perubahan besar dalam korporasi mustahil berjalan secara organik tanpa dorongan kuat dari atas. Namun, ia juga memperingatkan bahwa gaya kepemimpinan otoriter tanpa komunikasi dua arah akan memicu resistensi di tingkat akar rumput. Transformasi yang ideal memerlukan perpaduan antara instruksi yang tegas serta proses membangun kepercayaan dari seluruh karyawan.
“Perubahan hanya dapat dilakukan dengan dua cara. Nomor satu adalah top down approach. Orang berubah karena top down. Tetapi at the same time perubahan itu harus dikomunikasikan untuk melakukan buy-in proses,” jelas Dony. Melalui proses buy-in, setiap insan perusahaan merasa memiliki agenda transformasi tersebut. Hal ini mengubah kebijakan yang semula terasa dipaksakan menjadi sebuah gerakan kolektif untuk mencapai target bersama.
Satu poin kritis yang menjadi sorotan dalam program ini adalah tingginya angka kegagalan transformasi di dunia bisnis. Dony memaparkan statistik yang cukup kontras, di mana hanya sedikit perusahaan yang mampu bertahan dan sukses melakukan perubahan fundamental. Faktor pembeda utamanya terletak pada keterlibatan langsung pimpinan dalam setiap tahapan eksekusi di lapangan.
“Dia memimpin sendiri eksekusi. 70% daripada transformasi itu gagal. Hanya 30% yang berhasil. Kenapa? Keynya apa? Pemimpin. Kalau dia tidak mampu memimpin sendiri eksekusi daripada transformasi yang dilakukan, transformasi akan fail,” tegas Dony. Ia mengingatkan para CEO agar tidak sekadar mendelegasikan tugas transformasi kepada bawahan, melainkan harus turun tangan memastikan setiap strategi berjalan sesuai peta jalan yang telah ditetapkan.
Langkah BP BUMN dan Danantara Indonesia melalui program pengembangan kepemimpinan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin memastikan setiap BUMN memiliki daya saing global. Dengan visi yang jelas dan eksekusi yang konsisten, transformasi ini diharapkan tidak hanya sekadar mengganti logo atau struktur organisasi, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah nyata bagi negara serta meningkatkan kualitas layanan publik bagi seluruh masyarakat Indonesia.