BANDA ACEH — Rencana pembangunan jaringan kereta api di Aceh memasuki babak baru. Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan resmi mengusulkan kajian ulang menyeluruh terhadap masterplan yang sudah ada, dengan alasan perubahan tata ruang wilayah dan dampak bencana alam yang signifikan.
Usulan ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Perkeretaapian di Wilayah Aceh yang digelar Selasa (5/5/2026). Pertemuan itu dihadiri Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan, Jimmy Michael Gultom, serta jajaran Bappeda Aceh dan Dishub setempat.
Dalam forum tersebut, Dishub Aceh memaparkan kondisi terkini sarana dan prasarana kereta api yang rusak akibat bencana hidrometeorologi. Berdasarkan data BTP Kelas I Medan, terdapat 65 titik fasilitas di lintas Muara Satu (Lhokseumawe) hingga Kuta Blang (Bireuen) yang terdampak.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menekankan pentingnya percepatan pembangunan jalur kereta api. Menurutnya, moda transportasi ini merupakan yang paling efisien untuk mendukung mobilitas barang dan penumpang di wilayah tersebut.
“Kereta api merupakan moda transportasi yang paling efisien sehingga perlu segera dikembangkan untuk mendukung konektivitas dan perekonomian Aceh,” ujar Teuku Faisal dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Ia juga mendorong Kementerian Perhubungan untuk memberikan perhatian serius terhadap proyek ini. Alasannya, dinamika di lapangan terus berubah, mulai dari pembangunan infrastruktur baru hingga risiko bencana yang memengaruhi tata ruang.
Pemerintah pusat sendiri telah memasukkan pembangunan jaringan kereta api lintas Aceh–Besitang sebagai program prioritas nasional. Proyek ini merupakan bagian dari percepatan pengembangan transportasi Trans Sumatra yang menjadi fokus pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).
Teuku Faisal menegaskan bahwa Pemerintah Aceh siap mendukung penuh proyek tersebut. Dukungan ini dinilai penting agar pembangunan selaras dengan visi pusat dalam memperkuat konektivitas nasional dan menekan biaya logistik di daerah.
Akibat kerusakan di 65 titik tersebut, layanan angkutan kereta api perintis yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk rute Aceh terpaksa dihentikan sementara. Belum ada kepastian kapan layanan tersebut akan kembali beroperasi penuh.
Kepala BTP Kelas I Medan, Jimmy Michael Gultom, menyambut baik usulan penataan ulang dari Dishub Aceh. Ia menilai dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan dalam setiap tahap perencanaan pengembangan jaringan perkeretaapian ke depan.