Pencarian

Dosen Almuslim Bireuen Terbitkan Buku Epidemiologi Cacing Sapi di Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 • 22:10:06 WIB
Dosen Almuslim Bireuen Terbitkan Buku Epidemiologi Cacing Sapi di Aceh
Dr. Zulfikar menyerahkan buku epidemiologi cacing sapi kepada Dinas Peternakan Aceh sebagai dukungan kesehatan ternak.

BIREUEN — Dosen tetap Universitas Almuslim Bireuen, Dr. Drh. Zulfikar, M.Si, menyerahkan buku karyanya yang mengulas tuntas epidemiologi penyakit cacing pada sapi kepada Dinas Peternakan Provinsi Aceh. Penyerahan literatur berjudul “Epidemiologi Nematoda Gastrointestinal Pada Sapi di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi Provinsi Aceh” ini dilakukan sebagai langkah nyata mendukung kesehatan ternak di Tanah Rencong.

Buku tersebut merangkum hasil riset mendalam mengenai sebaran parasit nematoda gastrointestinal yang selama ini menjadi musuh dalam selimut bagi para peternak. Zulfikar menyerahkan karya tersebut langsung kepada Kepala Dinas Peternakan Aceh, drh. Safridhal, didampingi Sekretaris Dinas drh. T. Munazar dan Kabid Produksi Azwari pada Sabtu (2/5/2026).

Selain instansi tingkat provinsi, referensi ilmiah ini juga telah didistribusikan ke sejumlah otoritas peternakan di kabupaten/kota, termasuk Dinas Peternakan Kabupaten Bireuen. Kehadiran buku ini diharapkan mampu mengisi celah literatur teknis bagi para penyuluh dan pengambil kebijakan di lapangan.

Bahaya Infeksi Cacing yang Mengancam Produktivitas Sapi

Penyakit cacing atau nematoda gastrointestinal dinilai berbahaya karena sifatnya yang non-klinis atau tidak tampak secara langsung dari luar. Dampak utamanya adalah penurunan kondisi fisik hewan secara perlahan yang berujung pada kerugian ekonomi bagi peternak ruminansia besar maupun kecil.

"Seringkali sapi terlihat kurus, tetapi penyebabnya tidak selalu diketahui secara pasti. Bisa jadi karena infeksi cacing, namun juga bisa disebabkan faktor lain. Di sinilah pentingnya pemahaman epidemiologi agar penanganan tepat sasaran," kata Zulfikar.

Infeksi ini menyerang organ dalam sehingga kerap luput dari pengamatan mata telanjang. Tanpa deteksi dini dan pemahaman pola penyebaran (epidemiologi), upaya penggemukan sapi sering kali menjadi sia-sia karena nutrisi pakan justru diserap oleh parasit.

Rekomendasi Pengobatan Rutin Setiap Enam Bulan

Masalah cacingan pada ternak di Aceh bukan merupakan penyakit musiman. Infeksi dapat terjadi sepanjang tahun tanpa mengenal cuaca, terutama jika manajemen pemeliharaan di lingkungan kandang maupun area penggembalaan kurang terjaga.

Zulfikar menekankan pentingnya intervensi medis secara berkala untuk memutus rantai penularan parasit. Ia merekomendasikan para peternak melakukan pengobatan rutin minimal setiap enam bulan sekali guna memastikan sapi tetap produktif dan sehat.

Melalui buku ini, ia mendorong pemerintah daerah meningkatkan program edukasi dan pengobatan massal. Sektor peternakan Aceh membutuhkan langkah preventif yang terukur agar populasi sapi di dataran rendah maupun tinggi memiliki kualitas daging dan daya tahan tubuh yang optimal.

Rekam Jejak Riset dan Profil Dr. Zulfikar

Dr. Drh. Zulfikar, M.Si merupakan akademisi kelahiran Matangglumpang Dua yang memiliki rekam jejak panjang di dunia kesehatan hewan. Sebelum mengabdi di Universitas Almuslim sejak 2007, ia sempat berkarier di berbagai perusahaan farmasi dan pakan ternak di Jawa dan Sumatera selama satu dekade.

Pendidikan doktornya diselesaikan di Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2020 dengan fokus pada Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Hingga saat ini, ia tercatat telah mempublikasikan lebih dari 20 karya ilmiah di jurnal nasional maupun internasional terkait penyakit infeksius pada ternak.

Kepakarannya dalam bidang parasitologi hewan dan manajemen risiko lingkungan kini dituangkan dalam buku terbaru ini. Karya tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan kebijakan peternakan berbasis data ilmiah di seluruh wilayah Aceh.

Bagikan
Sumber: indojayanews.com

Berita Terkini

Indeks