JAKARTA — Gelombang panas yang meluluhlantakkan hampir seluruh kawasan Eropa sejak 21 Juni 2026 mulai bergerak ke timur, namun dampaknya belum sepenuhnya berlalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi suhu ekstrem yang memecahkan rekor ini telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang, dengan puncak paparan terjadi pada Senin lalu ketika lebih dari 130 juta warga Eropa merasakan suhu di atas 30 derajat Celsius.
Rekor Suhu Pecah di Tiga Negara Sekaligus
Di Jerman, kota Leipzig mencatat suhu 41,7 derajat Celsius — angka tertinggi sepanjang sejarah. Panas yang luar biasa itu bahkan melelehkan aspal dan bitumen di jalan raya, merusak rel trem, dan menghentikan layanan transportasi umum demi keselamatan penumpang. Rekor serupa terjadi di Doksany, Republik Ceko (41,9°C), dan Slubice, Polandia (40,5°C).
Mengapa Gelombang Panas Ini Begitu Mematikan?
Kelompok ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menegaskan fenomena ini hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim global. “Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada Juni tanpa adanya perubahan iklim,” ujar Theodore Keeping dari Imperial College London kepada New Scientist. Studi mereka juga menyimpulkan bahwa El Nino yang sedang berlangsung tidak berperan signifikan — pemicu utamanya adalah pemanasan global akibat kerusakan lingkungan.
Pergeseran ke Timur: Hongaria dan Eropa Selatan Kini Terdampak
Pusat tekanan panas kini bergeser ke kawasan timur dan selatan Eropa. Dua dari lima orang di benua itu diprediksi masih merasakan suhu di atas 30 derajat Celsius pada Selasa. Di Hongaria, hampir seluruh penduduknya diperkirakan akan terpapar suhu menyengat hingga 35 derajat Celsius. Kondisi ini membuat aktivitas luar ruangan terpaksa dibatalkan, sekolah-sekolah ditutup, dan layanan kesehatan darurat kewalahan menangani kasus heatstroke.
Ancaman ke Depan: Korban Bisa Jauh Lebih Banyak
Pakar iklim memperingatkan bahwa gelombang panas tahun ini hanyalah awal dari siklus yang lebih ekstrem. Tanpa langkah mitigasi perubahan iklim yang serius, suhu tinggi yang datang lebih awal di awal musim panas ini bisa menjadi “normal baru” bagi Eropa — dengan potensi korban jiwa yang terus bertambah di tahun-tahun mendatang.