BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal menegaskan pengembangan usaha tidak cukup hanya mengandalkan suntikan modal. Para pelaku UMKM dinilai membutuhkan pendampingan berkelanjutan, akses pasar, serta keberanian berinovasi agar usahanya bertahan dan berkembang.
"Modal memang krusial sebagai pemicu awal, tetapi modal tanpa pengetahuan akan cepat habis tak berbekas," ujar Illiza saat menghadiri Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Akbar kolaborasi PNM dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung Aula OJK Provinsi Aceh.
Target Naik Kelas dari Mikro ke Menengah
Illiza mengarahkan pengembangan UMKM tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mampu bertransformasi dari usaha mikro menjadi kecil, lalu menengah, hingga memperluas pasar ke tingkat nasional dan internasional. Ia meminta pelaku usaha menertibkan pencatatan keuangan, meningkatkan kualitas kemasan produk, memanfaatkan teknologi digital, serta menggunakan pembiayaan secara sehat.
Kegiatan yang mengusung tema "Sinergi Finansial: Wujudkan UMKM Tangguh dan Berkelanjutan" ini diikuti 100 peserta terpilih. Mereka mendapatkan materi literasi keuangan dari OJK mengenai kanal pengaduan konsumen, pelatihan pencatatan keuangan sederhana dari PNM, serta pendampingan penjualan online.
Usaha Rumahan Jadi Pijakan Ekonomi Keluarga
Khusus kepada ibu-ibu peserta PNM Mekaar, Illiza berpesan agar tidak berkecil hati dengan skala usaha yang dijalankan. Menurutnya, usaha yang bermula dari dapur rumah, warung sederhana, kerajinan, hingga media sosial memiliki arti penting bagi ketahanan ekonomi keluarga.
Karena itu, pembiayaan PNM perlu dijadikan batu pijakan untuk mengembangkan usaha, bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumtif sesaat. UMKM Banda Aceh sendiri tersebar di berbagai sektor, mulai perdagangan, pariwisata, kuliner, ekonomi kreatif, jasa pendidikan, usaha digital, hingga wisata bahari dan perikanan.
Program CEPAT dan Digitalisasi UMKM
Penguatan UMKM ini sejalan dengan Program CEPAT (Penguatan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat) dalam RPJM Kota Banda Aceh 2025-2029. Pemerintah Kota Banda Aceh juga memperkuat keterampilan masyarakat melalui Banda Aceh Academy serta mendorong digitalisasi UMKM lewat Aplikasi Usaha Teman.
Sepanjang 2026, berbagai pelatihan telah diberikan, mulai dari manajemen keuangan, branding dan konten digital, pembayaran QRIS, hingga legalitas dan perpajakan usaha. Kegiatan PKU Akbar ini juga diisi showcase produk nasabah, penyerahan beasiswa, dan sertifikat halal.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran KUR di Aceh pada 2025 mencapai Rp3,84 triliun untuk 41,34 ribu debitur. Sementara Banda Aceh menyerap sekitar Rp270 miliar bagi 2.080 debitur. Illiza menilai sinergi OJK, PNM, perbankan, dan Pemerintah Kota Banda Aceh diperlukan agar akses pembiayaan dapat mendorong pertumbuhan usaha yang sehat dan berkelanjutan.