PIDIE — Para petani bawang merah di Kabupaten Pidie mulai resah. Dalam dua pekan terakhir, harga komoditas ini di tingkat agen penampung merosot dari Rp 27.000 menjadi Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram.
Kondisi ini dipicu oleh membanjirnya pasokan dari luar daerah. Bawang merah dari Padang, Sumatera Barat, dan Medan, Sumatera Utara, membanjiri pasar. Arus barang dari sejumlah kabupaten lain pun ikut menambah derasnya pasokan.
Panen Raya di 6 Kecamatan Memperberat Tekanan
Penurunan harga terjadi tepat saat petani lokal memasuki masa panen. Kecamatan sentra produksi seperti Pidie, Simpang Tiga, Kembang Tanjong, Padang Tiji, Grong-Grong, dan Muara Tiga tengah ramai melakukan pemanenan.
Pasokan di pasar pun semakin menumpuk. Alih-alih menikmati harga panen yang baik, para petani justru berhadapan dengan harga jual yang terus merosot.
Petani Prediksi Harga Tembus Rp 15.000
Anwar, petani di Kecamatan Pidie, memperkirakan tekanan terhadap harga masih akan berlanjut. Potensi penurunan ke level yang lebih rendah dinilai masih terbuka lebar.
"Hal ini adalah dampak pasokan luar daerah hingga harga anjlok. Sebelumnya harga sempat berada di kisaran Rp 27.000 per kilogram, kini menjadi Rp 20.000 sampai Rp 21.000," ujar Anwar kepada PortalNusa.com, Sabtu (22/8).
Ia menambahkan, jika pasokan dari luar daerah tetap deras sementara produksi lokal meningkat, harga di tingkat petani berpotensi menyentuh Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per kilogram.
Harga Eceran Diprediksi Ikut Terkoreksi
Di tingkat pedagang eceran, harga bawang merah saat ini masih bertahan di sekitar Rp 25.000 per kilogram. Namun, peluang penurunan harga di tingkat konsumen dinilai cukup besar apabila pasokan terus bertambah.
Bagi para petani, situasi ini menjadi pukulan telak. Biaya produksi yang telah dikeluarkan selama masa tanam tidak sebanding dengan harga jual yang diterima. Meningkatnya pasokan tanpa diimbangi daya serap pasar membuat posisi tawar petani semakin lemah.